Jumat, 25 Agustus 2023

PENYEBAB KEBAKARAN HUTAN DAN PENCEGAHANYA

Kebakaran hutan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik alami maupun manusia. Berikut adalah beberapa faktor penyebab kebakaran hutan:

1. Aktivitas Manusia :

  • Pembakaran Lahan: Pembakaran lahan untuk pertanian, perkebunan, atau pembukaan lahan dapat berujung pada kebakaran yang sulit dikendalikan.
  • Merokok Sembarangan: Puntung rokok yang dibuang sembarangan atau tidak dipadamkan dengan benar dapat menyebabkan kebakaran.
  • Pembuangan Sampah: Sampah yang dibuang sembarangan dan terbakar dapat menjadi pemicu kebakaran.
  • Aktivitas Perburuan: Api dari aktivitas perburuan liar atau memasak di alam terbuka dapat memicu kebakaran.

2. Cuaca Ekstrem :

  • Musim Kemarau: Cuaca kering dan rendahnya kelembaban selama musim kemarau membuat tanah dan tumbuhan menjadi kering, meningkatkan risiko kebakaran.
  • Suhu Tinggi: Suhu panas yang tinggi dapat menyebabkan tanah dan vegetasi menjadi mudah terbakar.

3. Petir : Petir dapat menyebabkan kebakaran secara alami jika mengenai vegetasi yang kering atau mudah terbakar.

4. Deforestasi dan Degradasi Hutan : Penggundulan hutan tanpa pengelolaan yang baik meninggalkan bahan bakar potensial dalam bentuk tumbuhan kering dan ranting, meningkatkan risiko kebakaran.

5. Ekosistem yang Tidak Sehat : Hutan yang tidak sehat atau terlalu padat dapat menciptakan kondisi yang lebih rentan terhadap kebakaran.

6. Aktivitas Industri dan Konstruksi : Aktivitas seperti pembangunan, penebangan kayu, atau eksplorasi mineral dapat meningkatkan risiko kebakaran jika tidak diawasi dengan ketat.

7. Kondisi Lingkungan Global : Perubahan iklim dapat berkontribusi pada peningkatan risiko kebakaran hutan dengan menciptakan kondisi cuaca yang lebih kering dan ekstrem.

Pencegahan kebakaran hutan melibatkan pengelolaan lahan yang bijaksana, edukasi masyarakat, pengawasan yang ketat, dan kesadaran akan bahaya yang mungkin timbul. Dengan mengatasi faktor-faktor penyebab tersebut, kita dapat membantu mengurangi risiko kebakaran hutan dan melindungi lingkungan.

Masyarakat di sekitar hutan dapat mengambil inisiatif sendiri dalam pencegahan kebakaran hutan dengan langkah-langkah sederhana namun efektif. Berikut adalah beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat:

1. Pembatasan Pembakaran :

  • Hindari pembakaran sampah atau rerumputan di dekat hutan, terutama selama musim kemarau.
  • Gunakan alternatif seperti kompos atau tempat pembuangan sampah resmi.

2. Pembersihan Area Sekitar Hutan:

  • Jaga area sekitar rumah atau lahan dari dedaunan kering, ranting, dan bahan mudah terbakar.
  • Pastikan rumput dan tumbuhan kering di sekitar lahan tetap terjaga dan tidak terlalu tinggi.

3. Penggunaan Api dengan Hati-hati:

  • Pastikan api benar-benar padam setelah memasak atau berkumpul di luar rumah.
  • Jika memang perlu membakar, pastikan ada izin dan pengawasan yang memadai.

4. Pemantauan Aktif:

  • Selalu perhatikan lingkungan sekitar Anda untuk mendeteksi tanda-tanda awal kebakaran atau asap.
  • Laporkan segera ke pihak berwenang jika Anda melihat tanda-tanda bahaya.

5. Pengelolaan Lahan Berkelanjutan:

  • Tanam pohon pelindung atau tanaman penutup tanah di sekitar lahan Anda untuk mengurangi bahan bakar potensial bagi kebakaran.
  • Lakukan pemangkasan teratur untuk menghindari tumbuhnya vegetasi yang terlalu padat.

6. Pemadaman Dini:

  • Siapkan alat-alat pemadaman sederhana seperti ember air atau alat pemadam api ringan.
  • Jika terjadi kebakaran kecil, segera lakukan pemadaman dini sebelum api membesar.

7. Edukasi dan Informasi:

  • Bagikan informasi tentang bahaya kebakaran hutan dan langkah-langkah pencegahan kepada tetangga dan keluarga Anda.
  •  Ajak komunitas sekitar untuk bergotong royong dalam pencegahan dan pemadaman kebakaran.

8. Kolaborasi dengan Relawan dan Pihak Berwenang:

  • Bergabung dengan kelompok relawan atau komunitas yang peduli terhadap pencegahan kebakaran hutan.
  • Tetap berhubungan dengan petugas kehutanan atau pemadam kebakaran setempat untuk koordinasi dan dukungan.

9. Perhatikan Cuaca dan Kondisi Lingkungan:

  • Jika cuaca kering atau berangin, pertimbangkan untuk menunda aktivitas yang melibatkan api atau penggunaan alat-alat listrik yang berpotensi menyebabkan percikan api.

Pencegahan kebakaran hutan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan oleh masyarakat secara mandiri. Dengan kesadaran dan kerja sama, masyarakat dapat berperan aktif dalam melindungi hutan dan lingkungan sekitarnya dari risiko kebakaran.


Selasa, 25 Juli 2023

PERANAN HASIL HUTAN NON KAYU DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI

Hasil Hutan Non-Kayu (HHNK) adalah berbagai produk dan jasa yang dihasilkan oleh hutan selain dari kayu. Contohnya termasuk buah-buahan liar, tumbuhan obat, rotan, bambu, bahan kerajinan, pakan ternak, serta daya tarik ekowisata. HHNK memiliki nilai ekonomi dan sosial yang penting bagi masyarakat dan lingkungan. Buah-buahan liar dan tumbuhan obat menyediakan sumber pangan dan obat-obatan alami. Rotan dan bambu digunakan sebagai bahan bangunan dan kerajinan. HHNK juga mendukung pertanian dengan menyediakan pakan ternak dan berperan sebagai penyerbuk tanaman. Keberagaman HHNK juga mendukung ekowisata, meningkatkan pendapatan masyarakat dan konservasi keanekaragaman hayati dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil hutan non-kayu (HHNK) memiliki manfaat yang penting bagi petani dan masyarakat di sekitar hutan. Beberapa manfaatnya antara lain:

    1. Pangan: Berbagai hasil hutan non-kayu seperti buah-buahan liar, umbi-umbian, dan sayuran hutan dapat menjadi sumber pangan alternatif yang bergizi bagi petani dan masyarakat di daerah sekitar hutan.

    2. Obat-obatan: Tanaman obat yang ada di hutan menyediakan sumber obat-obatan alami yang tradisional bagi petani dan masyarakat setempat.

    3. Bahan Bangunan: Bambu, rotan, dan kulit kayu merupakan contoh HHNK yang digunakan sebagai bahan bangunan dan kerajinan, membantu memenuhi kebutuhan masyarakat untuk membangun rumah dan peralatan sehari-hari.

    4. Bahan Kerajinan: Serat tumbuhan seperti pandan, rami, atau daun pisang digunakan dalam kerajinan tangan dan memberikan peluang bisnis bagi petani untuk meningkatkan pendapatan.

    5. Pakan Ternak: Beberapa HHNK, seperti hijauan pakan ternak, serangga, atau daun-daunan, dapat digunakan sebagai sumber pakan untuk hewan ternak, membantu meningkatkan produktivitas peternakan.

    6. Bahan Energi: Sebagian masyarakat di daerah pedesaan mengandalkan hasil hutan non-kayu, seperti kayu bakar dan arang, sebagai sumber bahan bakar untuk memasak dan memenuhi kebutuhan energi sehari-hari.

    7. Ekowisata: HHNK seperti flora dan fauna langka, burung-burung endemik, dan hewan liar dapat menjadi daya tarik ekowisata yang memberikan pendapatan tambahan bagi petani dan masyarakat sekitar.

    8. Penyerbukan Tanaman: Beberapa hasil hutan non-kayu seperti lebah dan serangga lainnya berperan sebagai penyerbuk alami tanaman, membantu meningkatkan produksi tanaman pertanian.

    9. Penyediaan Sumber Pendapatan: Penjualan hasil hutan non-kayu dapat memberikan sumber pendapatan tambahan bagi petani, meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan ekonomi lokal.

    10. Peningkatan Kualitas Hidup: Adanya HHNK dalam lingkungan yang sehat dapat meningkatkan kualitas hidup petani dan masyarakat, membantu menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dan seimbang.

    Pemanfaatan dan pelestarian hasil hutan non-kayu secara berkelanjutan sangat penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem hutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi petani dan masyarakat setempat.

    Jumat, 23 Juni 2023

    PEMELIHARAAN TANAMAN ALPUKAT


    Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan agar tanaman alpukat agar mampu tumbuh dengan subur dan cepat berbuah. Pertama dalam hal pemilihan bibit, sebaiknya dipilih dari hasil perbanyakan vegetatif melalui okulasi atau sambung pucuk. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan bibit yang memiliki sifat yang sama dengan induknya. Bibit dipilih dengan tampilan fisik yang sehat, tegak, segar, memiliki perakaran yang kuat dan tidak terserang hama dan penyakit.

    Tanaman alpukat untuk dapat tumbuh optimal memerlukan tanah gembur, tidak mudah tergenang air, sistem drainase/pembuangan air yang baik, subur dan banyak mengandung bahan organik.  Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhan alpukat adalah jenis tanah lempung berpasir, lempung liat dan lempung endapan.

    Lahan untuk budi daya alpukat sebaiknya dibersihkan dari gulma, tanaman liar semak semak, dan bebatuan. Jarak tanam yang digunakan dalam budi daya alpukat adalah 6x6 m, dengan popolasi 278 bibit per Ha. Bisa juga ditanam dengan jarak tanam 7x7 m dengan populasi 204 bibit per Ha. Lubang tanam dibuat dengan kedalaman 70 cm dan lebar 70x70 cm. Lubang tersebut dibiarkan terbuka selama lebih kurang 2 minggu.

    Saat menggali, tanah bagian atas dan bawah dipisahkan. Tanah bagian atas dicampur dengan 25 kg pupuk kandang. Selanjutnya, lubang tanam ditutup kembali dengan posisi seperti semula. Lubang tanam yang sudah ditutup tanah diberi tanda berupa ajir agar posisi tanam tidak keliru. Pengolahan lahan sebaiknya dilakukan saat musim kemarau sehingga penanaman bibit alpukat dapat dilakukan pada awal musim hujan.

    Dalam pemeliharaan bibit alpukat, ada beberapa tahap yang perlu diperhatikan agar bibit alpukat mampu tumbuh dengan optimal. Beberapa tahapan yang harus dilakukan antara lain adalah penyiraman, pemupukan, penyiangan, pemangkasan, dan penggemburan.

    Bibit alpukat yang baru ditanam memerlukan banyak air, sehingga penyiraman perlu dilakukan setiap hari. Waktu yang tepat untuk menyiram adalah pagi/sore hari. Namun, saat musim penghujan penyiraman tidak perlu dilakukan lagi.

    Untuk pemupukan dilakukan secara teratur sebanyak 4 kali dalam setahun dengan jumlah pupuk yang diberikan bergantung pada umur tanaman. Pupuk yang biasa digunakan untuk pemupukan adalah pupuk urea, TSP, dan KCl. Pemupukan dilakukan dengan cara dimasukan ke dalam lubang yang dibuat melingkar di bawah tajuk tanaman dengan kedalaman sekitar 30 cm hingga 40 cm.

    Agar tanaman alpukat tumbuh dengan baik maka gulma-gulma di sekitaran tanaman harus disiangi secara rutin. Proses penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma dan rumput liar yang tumbuh di sekitar bibit alpukat dengan menggunakan cangkul atau alat manual lainnya.

    Pemangkasan hanya dilakukan pada cabang-cabang yang tumbuh terlalu rapat atau ranting-ranting yang mati. Pemangkasan dilakukan secara hati-hati agar luka bekas pemangkasan terhindar dari infeksi penyakit dan luka bekas pemangkasan sebaiknya diberi penutup luka seperti parafin cair.

    Tanah di sekitar tanaman perlu digemburkan secara periodik. Proses pengemburan dapat menggunakan bantuan alat cangkul dan sejenisnya. Lakukan secara perlahan dan hati-hati agar tidak memutus akar tanaman alpukat. Setelah itu alpukat sudah mulai berbuah setelah berumur sekitar 10-15 tahun jika ditanam melalui biji, jika ditanam dengan sistem vegetatif biasanya akan mulai berbuah setelah berumur sekitar 5 hingga 8 tahun bergantung pada perawatan yang diberikan. Biasanya buah akan dapat dipanen setelah 6 hingga 7 bulan setelah bunga mekar.

    Rabu, 24 Mei 2023

    BUDIDAYA KACANG SACHA INCHI SISTEM AGROFORESTRY

     

    Hutan rakyat merupakan salah satu pengelolaan sumber daya alam yang berdasarkan inisiatif masyarakat, ditujukan untuk menghasilkan kayu dan non kayu secara ekonomis ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat untuk menuju kesejahteraanya.

    Lahan kering merupakan lahan yang cocok untuk berbudidaya kacang sancha inchi. Dapat tumbuh di dataran rendah  yang panas hingga dataran dengan ketinggian 1.700 dpl.

    Agroforestry adalah sisitim tanam yang melakukan penanaman tanaman kombinasi atau campuran dalam satu hamparan lahan. Kombinasi jenis tanamanya dapat berupa campuran tanaman kehutanan dan pertanian dengan tehnik tanam agroforestry , pemilik lahan dapat memaksimalkan manfaat ekonomi dan keanekaragaman hayati akan tetap didapatkan, praktek seperti ini masyarakat pedesaan biasa mengenal dengan istilah kebun campur sari.

    1. PEMILIHAN LAHAN

    Pilih lahan yang memiliki kualitas tanah yang baik, akses air yang cukup, dan intensitas cahaya matahari yang cukup. Hindari lahan yang memiliki kemiringan yang terlalu curam atau terdapat genangan air yang berlangsung lama.

    1. PEMILIHAN JENIS POHON

    Pilih jenis pohon yang sesuai dengan kondisi lahan dan dapat memberikan manfaat ganda dengan sacha inchi, seperti pohon yang memiliki nilai ekonomi tinggi, menghasilkan buah atau kayu, atau dapat memperbaiki kualitas tanah. Beberapa contoh jenis pohon yang dapat dipilih adalah jati, sengon, mahoni, dan pohon kopi.

    Dalam budidaya sacha inchi dalam sistem agroforestry, pemilihan jenis pohon yang tepat sebagai naungan sangat penting untuk keberhasilan produksi. Pohon yang digunakan sebagai naungan harus memiliki karakteristik yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan sacha inchi, seperti tidak menyerap terlalu banyak nutrisi dan cahaya matahari, memiliki akar dangkal, dan tidak menimbulkan persaingan yang berlebihan dengan sacha inchi.

    Beberapa jenis pohon yang sering digunakan sebagai naungan dalam budidaya sacha inchi dalam sistem agroforestry antara lain:

    1. Jenis pohon legum: seperti gamal, lamtoro, dan kaliandra. Pohon legum memiliki kemampuan untuk menambat nitrogen dari udara melalui bakteri yang hidup di akar mereka. Nutrisi nitrogen yang diperoleh dapat digunakan oleh tanaman kacang sacha inchi dan memberikan manfaat tambahan bagi tanah.
    2. Jenis pohon buah-buahan: seperti mangga, rambutan, dan durian. Pohon buah-buahan dapat memberikan naungan yang cukup dan juga memberikan manfaat ekonomi dengan hasil panen buah-buahan yang dapat dijual.
    3. Jenis pohon kayu keras: seperti jati, sengon laut, dan mahoni. Pohon kayu keras memiliki pertumbuhan yang lambat dan tidak menyerap terlalu banyak nutrisi, sehingga tidak bersaing dengan tanaman kacang sacha inchi.

    Pemilihan jenis pohon naungan juga harus mempertimbangkan iklim dan kondisi lingkungan setempat. Jika lingkungan memiliki curah hujan yang tinggi, maka pohon yang memiliki daun lebat dan tahan terhadap jamur dapat menjadi pilihan yang tepat untuk mencegah serangan jamur pada tanaman kacang sacha inchi.

    1. PEMILIHAN JENIS TANAMAN PENDAMPING

    Pilih tanaman pendamping yang dapat memberikan manfaat bagi sacha inchi, seperti tanaman yang dapat menutupi tanah, mencegah tumbuhnya gulma, atau menarik serangga pemabung untuk membantu penyerbukan kacang sacha inchi.

    Selain pemilihan jenis pohon sebagai naungan, pemilihan jenis tanaman pendamping juga sangat penting dalam budidaya kacang sacha inchi dalam sistem agroforestry. Tanaman pendamping dapat memberikan manfaat tambahan bagi kacang sacha inchi, seperti meningkatkan produktivitas, mengontrol hama dan penyakit, serta meningkatkan keanekaragaman hayati.

    Beberapa jenis tanaman pendamping yang cocok untuk budidaya kacang sacha inchi dalam sistem agroforestry antara lain:

    1. Tanaman sayuran: seperti cabai, terung, buncis, dan kacang panjang. Tanaman sayuran dapat menambah nilai ekonomi dan memberikan keuntungan jangka pendek bagi petani.
    2. Tanaman obat: seperti jahe, kunyit, dan temulawak. Tanaman obat dapat memberikan manfaat kesehatan dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
    3. Tanaman penutup tanah: seperti kacang hijau, jagung, dan kacang tanah. Tanaman penutup tanah dapat membantu mengontrol erosi tanah dan meningkatkan kesuburan tanah.
    4. Tanaman peneduh: seperti pisang, kelapa, dan bambu. Tanaman peneduh dapat memberikan naungan yang cukup bagi kacang sacha inchi dan juga memberikan manfaat tambahan seperti hasil panen buah atau kayu.

    Pemilihan jenis tanaman pendamping juga harus mempertimbangkan kebutuhan nutrisi, air, dan cahaya matahari yang berbeda-beda dari setiap tanaman. Selain itu, perlu diperhatikan juga interaksi antara tanaman kacang sacha inchi dan tanaman pendamping untuk menghindari persaingan sumber daya yang berlebihan dan menciptakan hubungan simbiosis yang saling menguntungkan.

    1. PERSIAPAN BIBIT

    Bibit kacang sacha inchi dapat disiapkan dengan cara menanam biji di polybag atau di semai terlebih dahulu. Bijinya dapat dicampurkan dengan pupuk kandang atau kompos untuk meningkatkan pertumbuhan bibit.

    1. PENANAMAN BIBIT

    Lakukan penanaman bibit kacang sacha inchi pada saat cuaca cerah dan tidak terlalu panas. Lubangi tanah sesuai ukuran polybag atau lubang semai, kemudian letakkan bibit di dalamnya dan tutup kembali lubang dengan tanah. Atur jarak tanam sesuai kebutuhan tanaman, biasanya sekitar 3-4 meter antara tanaman kacang sacha inchi dan 4-5 meter antara tanaman kacang sacha inchi dengan pohon pendamping.Ada juga yang ditanamn disela sela tanaman kehutanan, sengon laut dengan di kasih penyangga tanaman.

    1. PEMUPUKAN

    Lakukan pemupukan secara teratur dengan pupuk organik seperti pupuk kandang atau kompos, serta pupuk NPK yang mengandung unsur nitrogen, fosfor, dan kalium. Lakukan pemupukan sekitar 2-3 kali dalam setahun.

    1. PENYIRAMAN

    Lakukan penyiraman secara teratur sesuai kebutuhan tanaman. Kacang Sacha inchi membutuhkan air yang cukup untuk tumbuh optimal, namun hindari penyiraman yang berlebihan yang dapat menyebabkan tanah tergenang.

    1. PEMANGKASAN

    Lakukan pemangkasan pada kacang sacha inchi untuk menjaga bentuk tanaman dan meningkatkan produksi buah. Pemangkasan dapat dilakukan setelah tanaman berumur sekitar 6-8 bulan.

    1. PEMANENAN

    Pemanenan buah kacang sacha inchi dilakukan pada saat buah sudah matang, yang biasanya terlihat dari perubahan warna kulit buah menjadi coklat kekuningan. Buah dapat dipetik secara manual atau dengan menggunakan alat petik buah. Setelah dipetik, buah dapat disimpan dalam tempat yang bersih dan kering untuk diolah lebih lanjut.

    Dengan melakukan budidaya sacha inchi dengan sistem agroforestri, diharapkan dapat meningkatkan kwalitas sumber daya alam terutama tanah dan air , jenis tanaman yang ditanamn dapat membantu dalam konservasi tanah dan air, menambah pendapatan petani dengan harapan hutan tetap terjaga dan lestari.

    Selasa, 18 April 2023

    PENGOLAHAN LIMBAH PENGGERGAJIAN KAYU

    Proses Dasar Pengolahan Kayu

    1. Penggergajian

    Tentu kayu yang masih dalam bentuk gelonggongan maka harus dipotong – potong lebih dahulu sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan mengikuti desain barang yang akan dibuat menggunakan kayu. Proses awal ini merupakan proses yang dapat dikatakan masih kasar dan membutuhkan penyempurnaan pada proses berikutnya.

    1. Pengeringan (Kiln Dry)


    Setelah dipotong maka kayu selanjutnya akan dikeringkan terlebih dahulu untuk menurunkan kadar air yang terkandungnya. Proses pengeringan kayu ini dilakukan menggunakan mesin dan ruangan khusus atau dapat juga dilakukan dengan cara alami yaitu dijemur. Proses ini dilakukan hingga kayu mencapai kadar air 8 – 12%, ini merupakan proses penting dalam pengolahan kayu.


    Hal ini karena kadar air kayu akan sangat berpengaruh terhadap kekuatan kayu, daya tahannya terhadap pelapukan dan serangan jamur maupun bakteri. Oleh karena itu pengujian kadar air kayu menjadi hal yang harus dilakukan dalam proses pengolahan dasar kayu. Pengukuran kadar air kayu sendiri dapat Anda lakukan menggunakan alat ukur kadar air / moisture meter khusus untuk kayu. Dengan kadar air yang sesuai tentu kualitas kayu juga akan semakin baik.

    1. Pengerjaan Konstruksi

    Proses ini mencakup proses pembentukan komponen, pengeboran untuk konstruksi penyambungan kayu baik menggunakan mesin maupun manual. Namun untuk mendapatkan hasil yang baik maka setidaknya kayu mendapat proses pengerjaan menggunakan mesin sebanyak 60%.

    1. Perakitan

    Setelah kayu dibentuk lebih mendetail maka proses perakitan menjadi salah satu proses pentingnya, proses ini akan berpengaruh terhadap kualitas produk itu sendiri. Proses ini membutuhkan keahlian tersendiri karena bila proses perakitan gagal maka sambungan kayu tidak akan kuat dan mudah terlepas.

    1. Finishing

    Bila kayu akan dibuat menjadi produk furniture maka proses finishing akan sangat berpengaruh terhadap estetikanya. Finishing akan memberikan tampilan yang baru dan lain dari pada tampilan serat maupun warna kayu yang sebenarnya dan proses ini merupakan proses yang paling sering diulang.

       

    Dalam jumlah yang relatif besar, yaitu penggergajian, vinir/kayu lapis dan pulp/kertas menimbulkan masalah adalah limbah penggergajian yang kenyataannya di lapangan masih ada yang ditumpuk sebagian dibuang ke aliran sungai (pencemaran air), atau dibakar secara langsung (ikut menambah emisi karbon di atmosfer). 

    Adanya limbah yang dimaksud menimbulkan masalah penanganannya yang selama ini dibiarkan membusuk, ditumpuk dan dibakar yang kesemuanya berdampak negatif terhadap lingkungan sehingga penanggulangannya perlu dipikirkan. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah memanfaatkannya menjadi produk yang bernilai tambah dengan teknologi terapan dan kerakyatan sehingga hasilnya mudah disosialisasikan kepada masyarakat. Hasil evaluasi menunjukkan beberapa hal berpeluang positif sebagai contoh teknologi terapan dimaksud dapat diterapkan secara memuaskan dalam mengkonversi limbah industri pengolahan kayu menjadi arang serbuk, briket arang, arang aktif, arang kompos dan soil conditioning

    Penerapan teknologi aplikatif atau terapan dan kerakyatan ini dapat dikembangkan menjadi skala besar (pilot dan komersial) baik secara teknis maupun ekonomis. Keberhasilan pemanfaatan limbah dapat memberi manfaat antara lain dari segi kehutanan dan industri kayu dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku konvensional (kayu) sehingga mengurangi laju penebangan/kerusakan hutan dan mengoptimalkan pemakaian kayu serta menghemat pengeluaran bulanan keluarga dan meningkatkan kesuburan tanah.

    Namun demikian mengubah pola kebiasaan masyarakat tidak mudah, diperlukan proses yang panjang. Untuk industri besar dan terpadu, limbah serbuk kayu gergajian sudah dimanfaatkan menjadi bentuk briket arang dan arang aktif yang dijual secara komersial. Namun untuk industri penggergajian kayu skala industri kecil yang ada di pedesaan, limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal

    Jenis-Jenis Limbah Kayu

    yang dimaksud dengan limbah adalah : sisa suatu usaha/atau kegiatan. Sementara pengertian limbah kayu adalah : kayu sisa potongan dalam berbagai bentuk dan ukuran yang terpaksa harus dikorbankan dalam proses produksinya karena tidak dapat menghasilkan produk (output) yang bernilai tinggi dari segi ekonomi dengan tingkat teknologi pengolahan tertentu yang digunakan.

    Berdasarkan asalnya limbah kayu dapat digolongkan sebagai berikut:

    1. Limbah kayu yang yang berasal dari daerah pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan antara lain berupa kayu yang tidak terbakar, akar, tunggak, dahan dan ranting.
    2. Limbah kayu yang berasal dari daerah penebangan pada areal HPH dan IPK antara lain potongan kayu dengan berbagai bentuk dan ukuran, tunggak, kulit, ranting pohon yang berdiameter kecil dan tajuk dari pohon yang sudah di tebang.
    3. Limbah hasil proses industri kayu lapis dan penggergajian berupa serbuk kayu, potongan pinggir, serbuk pengamplasan, log ind (hati kayu) dan veneer (lembaran triplek).

    Limbah kayu adalah sisa-sisa kayu atau bagian kayu yang dianggap tidak bernilai ekonomi lagi dalam proses tertentu, pada waktu tertentu dan tempat tertentu yang mungkin masih dimanfaatkan pada proses dan waktu yang berbeda.

    Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu

    Serbuk gergaji atau serbuk kayu merupakan limbah industri penggergajian kayu. Selama ini limbah serbuk kayu banyak menimbulkan masalah dalam penanganannya yang selama ini dibiarkan membusuk, ditumpuk dan dibakar yang kesemuanya berdampak negatif terhadap lingkungan sehingga penanggulangannya perlu dipikirkan.

    Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah memanfaatkannya menjadi produk yang bernilai tambah dengan teknologi aplikatif dan kerakyatan sehingga hasilnya mudah disosialisasikan kepada masyarakat

    Pemanfaatan utama dari serbuk gergaji adalah sebagai bahan camputan pembuatan papan partikel di mana serbuk gergaji disatukan dengan lem membentuk papan. Serbuk gergaji juga bisa diolah menjadi pulp yang lalu diolah kertas. Dalam pertanian, serbuk gergaji dapat menjadi mulsa. Serbuk gergaji juga bisa menjadi penyerap cairan sehingga cairan yang tumpah dapat lebih mudah dibersihkan. Serbuk gergaji dapat diolah dengan dibentuk menjadi bahan bakar briket yang kemudian diarangkan.

    Dalam Industri Makanan

    Selulosa dapat diekstrak dari serbuk gergaji. Dalam industri makanan, selulosa merupakan bahan pengisi pada berbagai jenis makanan sehingga volume makanan terlihat lebih besar. Makanan yang diisi selulosa dari serbuk gergaji diantaranya adalah sosis dan roti. Selulosa dari serbuk gergaji juga telah dimanfaatkan untuk menjadi casing sosis. 

    Pertanian

    Pemanfaatan limbah Serbuk kayu dalam Dalam pertanian yakni; sebagai mulsa, pembudidayaan berbagai macam komoditas jamur untuk konsumsi memanfaatkan serbuk kayu sebagai media tanam utama yang mana lebih cepat didapat daripada kayu lapuk, serbuk kayu merupakan salah satu media tanam dalam budidaya tanaman dengan teknik bertani hidroponik. Limbah industri kayu seperti serbuk gergaji dan kepingan kayu juga dapat diolah menjadi pupuk organik

    Hewan

    Serbuk kayu sebagai alas pada kandang hamster (ataupun hewan pengerat lainnya seperti marmot) bermanfaat sebagai sarang dan media mengerat, namun tidak semua serbuk kayu aman dan cocok untuk alas hamster ataupun hewan pengerat lainnya, Mengerat dan memakan serbuk kayu yang terbuat dari pohon cedar, pinus, ataupun yang lain yang dimungkinkan mengandung fenol yang bisa merusak sistem respirasi, hati dan kulit hamster.

    Daya serap serbuk kayu yang baik ini juga bermanfaat menyerap air seni agar meminimalisir bau pada kandang hamster dan menjaga kandang tetap kering. Sebaiknya serbuk kayu diganti berkala. Meskipun demikian, kayu dari tumbuhan runjung ataupun bekas tripleks dan papan partikel dianggap berbahaya untuk hewan-hewan tertentu, seperti hamster. Hal ini disebabkan karena hamster yang mengerat bekas papan mengandung lem maupun resin akan meracuni mereka.

    Bricket Kayu

    Salah satu cara yang ekonomis dan produktif adalah membuat bricket kayu yang nantinya akan bisa digunakan sebagai bahan bakar. Serbuk dan tatal diberi tekanan tinggi di dalam satu bejana tertutup hingga padat. hasil tekanan padat tersebut kemudian dijadikan sebagai bahan bakar yang mirip bricket batubara. Saya pernah berkunjung ke sebuah pabrik yang mengolah limbah dengan cara seperti ini akan tetapi belum bisa memberikan penjelasan detail kepada anda tentang bagaimana dan peralatan seperti apa yang harus disiapkan.

    GERAKAN BERSAMA MENANAM PENGHIJAUAN

     

    Postingan Populer